Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : “Manakah waktu yang paling afdhal
untuk melaksanakan shalat ? Apakah shalat diawal waktu itu lebih
afdhal ?
Jawaban.
Melaksanakan shalat sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh syar’i adalah lebih
sempurna oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika menjawab
pertanyaan yang dilontarkan kepadanya : ‘ Amalan apakah yang paling dicintai Allah ?
Beliau menjawab : Shalat tepat pada waktunya’ [1]

Beliau tidak menjawab (shalat pada awal waktu) dikarenakan shalat lima waktu ada
sunnah untuk didahulukan pelaksanaannya dan ada yang sunnah untuk diakhirkan. Misalnya
shalat isya’, sunnah untuk mengakhirkan pelaksanaannya sampai sepertiga malam, maka
apabila seorang wanita bertanya mana yang lebih afdhal bagi saya, saya shalat isya’
ketika adzan isya’ atau mengakhirkan shalat isya’ sepertiga malam ? Jawabannya : Yang
lebih afdhal kalau dia mengakhirkan shalat isya’ sampai sepertiga malam, karena pada
suatu malam Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat isya’ sehingga para
shahabat berkata : ‘Wahai Rasulullah, para wanita dan anak-anak telah tidur, lalu
beliau keluar dan shalat bersama mereka kemudian bersabda : Sesungguhnya inilah waktu
yang paling tepat (untuk shalat isya’) kalaulah tidak memberatkan umatku’. [2]

Demikian pula dianjurkan bagi para laki-laki muslimin yaitu laki-laki yang mengalami
kesulitan di saat bepergian mereka berkata : Kami akhirkan shalat atau kami dahulukan
? Kita jawab : Yang lebih afdhal hendaknya mereka mengakhirkan.

Demikian pula kalau sekelompok orang mengadakan piknik dan waktu isya’ telah tiba,
maka yang lebih afdhal melaksanakan shalat isya’ pada waktunya atau mengakhrikannya ?
Kita menjawab : ‘Yang paling afdhal hendaklah mereka mengakhirkan shalat isya’ kecuali
kalau mengakhirkannya mendapat kesulitan, maka shalat subuh, dhuhur, ashar, maghrib,
hendaknya dikerjakan pada waktunya kecuali ada sebab-sebab tertentu.

Adapun shalat fardhu selain shalat isya’ dilaksanakan pada waktunya lebih utama
kecuali ada sebab-sebab tertentu untuk mengakhirkannya. Adapun sebab-sebab tertentu
antara lain.

Apabila cuaca terlalu panas maka yang paling afdhal mengakhirkan shalat dhuhur pada
saat cuaca dingin, yaitu mendekati waktu shalat ashar, maka apabila cuaca terasa panas
yang afdhal shalat pada cuaca dingin, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam : ‘Apabila cuaca sangat panas maka carilah waktu yang dingin untuk shalat,
karena hawa panas itu berasal dari hembusan neraka jahannam’ [3]

Adapun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat safar, Bilal berdiri untuk
adzan maka Rasulullah bersabda : ‘Carilah waktu dingin [4]. Kemudian Bilal berdiri
lagi untuk adzan, Rasulullah mengizinkannya.

Seorang yang mendapatkan shalat berjama’ah diakhir waktu sedangkan diawal waktu tidak
ada jama’ah, maka mengakhirkan shalat lebih afdhal, seperti seseorang yang telah tiba
waktu shalat sedangkan ia berada di daratan, ia mengetahui akan sampai ke satu desa
dan mendapatkan shalat berjama’ah di akhir waktu, maka manakah yang lebih afdhal ia
mendirikan shalat ketika waktu shalat tiba atau mengakhirkannya sehingga ia shalat
secara berjama’ah ?

Kita katakan :’Sesungguhnya yang lebih afdhal mengakhirkan shalat sehingga
mendapatkan shalat secara berjama’ah, yang kami maksudkan mengakhirkan di sini demi
hanya untuk mendapatkan shalat berjama’ah.

[Disalin dari buku Majmu’ Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi
Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Bab Ibadah, hal. 333-335 Pustaka
Arafah]
_________
Foote Note.
[1] Hadits Riwayat Bukhari, Kitabul Mawaqit, bab, Fadhul Shalat Liwaktiha, dan
Muslim. Kitabul Al-Iman, bab Launul Iman billahi Ta’ala afdahl Al-Amal.
[2] Hadits Riwayat Muslim. Kitabul Masyajidi, bab Waktul isya’ wa takhiruka.
[3] Hadits Riwayat Bukhari, Kitabul Mawaqiti Shalat, bab Al-Ibrad bi dhuhri fi
siddatil harri, dan Muslim, Kitabul Masajid, bab Istihbab Al-Ibrad di dhuhuri.
[4] Hadits Riwayat Bukhari, Kitabul Mawaqiti Shalat, bab Al-Ibrad bi dhuhuri fi
safar, dan Muslim. Kitabul Masajidi, bab Istihbab Al-Ibrad bi dhuhuri fi siddatil harri