Belakangan makin banyak telepon pembaca yang menanyakan perihal terapi herba. Minta alamat dokter-dokteryang bisa meresepkan obat herba, atau menanyakan sisi keamanan terapi herba. Karena berasal dari bahan alami, tanaman obat dianggap aman, tidak mempunyai efek sampingan. Benarkah?

Endah Lasmadiwati, seorang praktisi herba di Jakarta menceritakan kasus laki-laki yang mengkonsumsi buah pare untuk menurunkan gula darahnya, mendadak mengalami impotensi. Usut punya usut, ternyata disebabkan karena buah pare dikonsumsi mentah, overdosis pula!

Ada lagi kasus-kasus ‘kecelakaan’ karena mengkonsumsi buah mahkota dewa dan temu putih yang dijadikan andalan penumpas sel kanker. Selain sakit tenggorokan mendadak, pasien yang bersangkutan justru mengalami perdarahan.

“Biji mahkota dewa memang tidak boleh dikonsumsi, sangat beracun. Selain itu buah mahkota dewa juga temu putih jangan diminum selagi haid, akan memperhebat perdarahan. Khasiatnya memang menumpas sel kanker sekaligus menggerus dinding rahim. Harus hati-hati, ada aturannya, terutama soal dosis,” demikian penjelasan pemilik Kebun Tanaman Obat Taman Sringganis di Bogor itu.

Kasus bengkak wajah setelah minum ramuan jamu, banyak ditulis oleh media massa. Ini disebabkan oleh kenakalan para produsen dengan menambah bahan-bahan kimia aktif. Bengkak mata karena salah kompres dengan teh celup chamomile yang mestinya teh biasa, adalah contoh kurang pengetahuan para pengguna herba di sini.

Ginko, herba yang makin laris untuk memompa daya ingat itu juga tidak aman 100%. Hanya akan efektif jika penurunan daya ingat disebabkan oleh karena melemahnya aliran darah ke otak. Kondisi seperti ini bisa diperbaiki dengan konsumsi ginko. Bagaimana jika melemahnya daya ingat disebabkan oleh faktor lain (misalnya ketidakseimbangan hormonal)?

Amanda McQuade Crawford penulis Herbal Remedies for Women juga pendiri National College of Phytotherapy di Albuquerque, mengatakan

“Jika lemahnya daya ingat disebabkan oleh ketidakseimbangan hormomal, ya…percuma saja minum ginko..”

Pegagan atau Gotu kola (Centella asiatica) mempunyai efek
menyerupai ginko, yaitu menajamkan daya ingat. Namun Dr Setiawan Dalirparta, dokter akupunkturis dan pengamat tanaman obat, mengingatkan agar hati-hati dalam dosis, karena bisa membahayakan, bahkan bisa fatal.

Hal-hal semacam ini sekedar contoh, bahwa dengan semakin populernya terapi herba, maka masyarakat juga dituntut untuk terus menerus tnengedukasi diri.

Terapi masa depan
Herba memang potensial sebagai obat, karena warisan alam ini akan menjadi pilar terapi masa depan, demikian menurut dokter yang juga herbalis Dc Anton Budiono M.Sci. di Jakarta. Namun sayang sekali, kekayaan herba Indonesia belum semuanya teruji kelayakannya sebagai bahan terapi. Juga, karena herba belum pernah secara khusus dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan dokter di sini, sehingga masih sulit untuk menstandarisasikannya. Dengan demikian siapa akan menjamin mutunya?

Untuk bisa dipakai sebagai bahan terapi, tanaman obat harus lulus melewati penelitian fisk, kimiawi, farmakologis, biologis, uji toksisitas (racun). Hingga kini para dokter masih enggan meresepkan tanaman obat karena masih kurang jelasnya informasi tentang khasiat, cara penggunaan dan efek sampingan bahan tanaman obat. Pekerjaan tersebut di Indonesia saat ini tidak mudah dilakukan mengingat memerlukan biaya riset yang tidak sedikit.

Sebagai gambaran, mari kita simak penelitian tanaman obat di Amerika Serikat. Tahapan penelitian untuk menentukan zat aktif satu tanaman saja memerlukan biaya 15-20 juta dollar, dan memerlukan waktu penelitian 12 tahun! Nah, mampukah Indonesia?

Indonesia sangat tertinggal dalam hal penelitian ilmiah berkaitan dengan obat tradisional, bahkan dibanding negeranegara di Asia lain seperti India, Korea, Jepang. Jadi pemakaian obat tradisional saat ini masih bersifat empiris artinya berdasar dosis dan efek yang didapat dari pengalaman yang sangat bervariasi buat masing-masing orang atau dari daerah ke daerah.

Bagi dr Anton Budiono, dokter yang sedang menyiapkan tesis doktomya (dalam bidang farmasi) ini, sangat efektif bagi para ahli di sini untuk mengacu kepada TCM (Traditional Chinese Medicine) yaitu ilmu pengobatan Cina yang mempunyai pendekatan dan telah terbukti selama ribuan tahun.

“Keberhasilannya sudah teruji selama berabad-abad,” katanya.

Alami tak selalu aman
Secara umum herba memang lebih kecil efek sampingannya dibanding obat obatan yang sudah umum direstpkan dokter (biasa disebut juga obat fiarmasi). Sejak tahun 1993-1998 FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika Serikat) menerima kira-kira 1000 laporan tentang reaksi yang berkaitan dengan konsumsi herba. Bandingkan dengan hampir 160.000 respon (hanya setahun, 1996) negatif obat-obat yang diresepkan dokter

Meski demikian herba tidak sepenuhnya aman, karena tanaman obat pun mengandung racun, dan penggunaannya memerlukan berbagai kondisi yang berbeda. Misalnya Echinacea (yang biasa digunakan untuk meningkatkan daya tahan tubuh melawan flu) sebaiknya tidak dikonsumsi mereka yang mempunyai gangguan otoimun, karena akan mempergiat sistem imun yang sudah terlalu aktif. Epedhra dan licorise akan membuat pasien darah tinggi semakin parah. Begitu juga ginko dan jahe, dosis konsumsinya harus diperhatikan terutama bagi pasienpasien yang sedang mengkonsumsi obat pengencer darah.

Berikut kumpulan pertanyaan yang masih sering ditanyakan oleh pembaca atau masyarakat luas. Dc Willie Japaries. MAR.S., dokteryang juga praktisi herba untuk terapi kanker di Jakarta dan dr.Cinderella Sisilia , Master of Herbal Medicine menjawab dengan menyertakan tip dalam mengkonsumsi herba.

Memilih, Menyimpan, menggunakan herba

Lebih bagus mana, herba segar atau yang sudah dikeringkan?
Efek herba segar dan kering sama saja., hanya soal dosis saja, karena yang telah dikeringkan atau diekstrak lebih pekat konsentrasinya. Pengeringan sangat bermanfaat, karena ada herba tertentu yang tumbuh hanya pada musim tertentu.

Untuk kasus akut seperti flu, sebaiknya herba dikonsumsi dalam bentuk seduhan. Sedangkan kasus kronis, herba dalam bentuk pil, tablet maupun kapsul. Sirup lebih mudah diberikan kepada anak-anak. Tinctur bisa diberikan jika pasien bisa menerima alkohol (ada pasien yang menolak alkohol). Dalam pengobatan Cina tradisional arak atau alkohol bersifat menghangatkan dan melancarkan sirkulasi darah sehingga bisa memperkuat efek pengobatan. Lebih-lebih pada kasus penyakit ‘yin/dingin’ dan gangguan sirkulasi darah.

Bagaimana menyimpan herba secara aman ?
Herba segar: disimpan dengan cara membungkusnya rapat dalam tempat yang tertutup rapat lalu dimasukkan lemari es, bisa tahan sampai seminggu. Sedangkan herba kering : bisa tahan lebih lama, tetapi efek panas, cahaya, oksigen (udara) tetap berpengaruh. Herba aromatiksepertichamomile, peppermint dengan bahan aktif yang terikat minyak esensial mudah menguap saat bereaksi dengan oksigen dan panas. Sebaiknya di tempatkan dalam wadah kaca yang tertutup rapat, simpan dalam gelap, kering dan dingin, jauhkan dari panas matahari. Jika penyimpanananya benar, herba kering (bunga dan daun) bisa tahan sampai setahun, sedang kulit kayu dan akar kering bisa sampai 2 tahun.

Liquid extract paling stabil, namun masih juga rusak oleh panas, cahaya dan udara (oksigennya). Jika disimpan dalam wadah yang tertutup selalu rapat, kekuatan liquid bisa bertahan hingga 3 tahun atau lebih.

Kapsul dan tablet sangat tidak stabil karen selama proses dihancurkan menyebabkan penguraian. Simpan dalam kering, dingin, gelap, jangan lebih dari 3 bulan. Dalam bentuk minyak, sangat peka terhadap panas. Paling baik, dalam lemari es, bisa tahan 6 bulan.

Seberapa cepat herba bereaksi ? Tergantung herba dan kondisi kesehatan kita/kondisi penyakitnya. Misalnya untuk keadaan akut, (kembung dan mual) dengan minum teh jahe, hasilnya akan terlihat 30 menit hingga sejam. Lain lagi untuk keadaan pengobatan jangka panjang, misal (gangguan keseimbangan hormonal) semacam menopause (dengan mengkonsumsi black cochos ) bisa tampak Ihasilnya sekitar 3 bulan. Meningkatkan vitalitas dengan minum tonik macam ginseng, efeknya baru terlihat sekitar sebulan.

Herba bekerja dengan cara memberi energi pada organ tubuh, kelenjar, dan menyeimbangkan kondisi tubuh. Ini tentu memerlukan waktu untuk melihat hasilnya.

Apakah sebaiknya dalam keadaan perut kosong ?
Tidak ada aturan umum, tetapi biasanya herba yang bersifat tonik (umumnya berasa manis dan tidak merangsang lambung) diminum sebelum makan agar penyerapannya maksimal, apalagi jika herba tersebut mahal harganya (misal ginseng).

Sedangkan herba yang mengandung zat pahit dan merangsang lambung misalnya Brotowali (Tinospora tuberculata) sebaiknya diminum setelah makan.

Berapa lama herba boleh diminum ?
Efektifitas herba ternyata ada jangka waktunya, bergantung pada kondisi penyakit dan sifat herba.

Kondisi penyakit : jika kasusnya akut seperti diare, flu, maka herba bisa diminum setiap 3-4 jam sekali dan dihentikan setelah kondisi membaik. Sedangkan pada kasus penyakit kronis, misal jerawat, rematik, hipertensi, kolesterol, biasanya herba harus diminum dalam waktu yang lebih lama.
Contoh:
Kayu manis (Cinnamomun cassia) bersifat diaphoretik (membuat berkeringat), analgesik dan antipiretik diminum untuk mengobati flu. Sebaiknya dihentikan jika pasien sudah berkeringat, demam mereda serta flunya membaik.

Bawang putih (Allium sativum) digunakan untuk pengobatan hipertensi tingkat sedang, pencegahan aterosklerosis dan penyakit arteri perifer (Raynaud’s disease). Toksisitasnya juga rendah sehingga bisa aman dikonsumsi dalam waktu iama.

Sifat herba, harus diperhatikan efek keras atau toksisitasnya.
Contoh:
Buah Makasar (Bruceo javanico) untuk pengobatan disentri dan malaria. Herba ini sangat pahit dan merangsang lambung (mual, sakit perut, diare) juga beracun, sehingga dosis dan lama konsumsi harus diperhatikan.

Dong Quai (Angelica sinensis) merangsang hematopoiesis sehingga berguna sebagai tonik darah. Berefek juga merangsang kontraksi uterus sehingga harus berhati-hati jika digunakan oleh wanita hamil. Konsultasikan dulu dengan ahlinya.

Echinaceae merangsang sistem imun sehingga dipakai untuk meredakan gangguan ISPA (infeksi saluran pemapasan atas). Banyak kasus alergi terhadap herba ini, jadi sebaiknya berkonsultasi kepada ahlinya. Jika dikonsumsi lewat dari 2 minggu, sudah tidak efektif lagi. Direkomendasikan 10 hari saja Istirahat 3 hari diulang 10 hari.

Ephedra (Ephedra sinica), biasa disebut juga ma-huang mengandung ephedrine yang berefek melonggarkan saluran pemapasan, adalah obat batuk yang bisa diandalkan. Bahan aktifnya merangsang sistem saraf pusat serta meningkatkan laju metabolisme. Waspada, jarena efek sampingannya menyengsarakan, antara lain insomnia (gangguan tidur), pusing, mual, gangguan detak jantung, dan meningkatkan tekanan darah.

Jika mesti mengkonsumsinya sebagai obat batuk, jangan lebih dari 2 minggu, dan jangan menggunakannya jika menderita tekanan darah tinggi. Minum sama sekali jika ada gangguan darah tinggi

Sambiloto (Andrographis panniculata) plus kumis kucing (Orthosiphon artistatus) biasa untuk mengobati kencing manis, Namun secara berkala harus terus memantau kadar gula darah dengan tes laboratorium.

Keladi tikus, temu putih, sambiloto adalah ramuan untuk kanker payudara, hendaknya dibarengi dengan pemeriksaan ukuran tumor dan konsentrasi petanda tumornya ( CEA, CA153, MCA) setiap bulan. Pemeriksaan harus dilakukan secara rutin, karena ada kalanya herba yang sudah dikonsumsi selama 23 bulan, tiba-tiba bisa tidak berkhasiat.

wajib ditanyakan
Banyak orang minum herba hanya ikut-ikutan orang lain yang telah mengkonsumsinya. Marilah menguji kesiapan diri sendiri dengan cara menjawab hal-hal sebagai berikut. Apakah kita bisa menjawabnya? Jika tidak, pertanyaan berikut wajib ditanyakan kepada dokter atau ahli herba.

1. Apakah harba yang bersangkutan berpengaruh terhadap obat lain yang sedang diminum?
2. Kondisi kesehatan mengkonsumsi herba (misalnya tekanan darah tinggi, diebetes, sakit tulang, asam urat) perlu diinformasikan kepada dokter atau herbalis Anda.
3. Gunakan dosis yang semestinya.
4. Berapa lama efeknya bakal muncul?
5. Berapa lama boleh mengkonsumsinya, kapan boleh diulang lagi?
6. Bentuk herba yang paling cocok untuk penyakit Anda?

Waspada
Waspada jika belum lebih dari satu jam mengkonsumsi, herba,muncul gejala mual, diare, pusing, berkeringat deras. Hentikan mengkonsumsi herba dan segera kon-sultasikan kepada ahli herbal atau dokter. Mungkin Anda perlu mengingatingat, selain herba yang baru Anda minum, Anda juga sedang mengkonsumsi obat apa saja.

Herba yang makin digemari
Kini, gerai obat herba makin banyak. Begitu juga produk
herba yang ditawarkan, semakin beraneka ragam. karena
derasnya herba asing yang masuk ke pasar. Apa saja berkhasiatnya?

Aloe vera pereda demam. Banyak penelitian baru yang
membuktikan kebenaran khasiat tanaman lidah buaya ini, yaitu
peredam demam, baik dari luar maupun dalam. Di sini kita sudah biasa menggunakannya, selain untuk demam, karena efek melembutkan. Belakangan semakin banyak dimodifikasi bentuknya, selain gel oles, aneka makanan kesegaran.

Echinecea menguatkan daya tahan tubuh. Berasal dari penduduk asli Amerika Indian. Penelitian menunjukkan ekstrak akar tanaman ini merangsang produksi sel-sel sistem imun, melindungi badan dari infeksi yang menyebabkan flu. Herbalis menggunakannya untuk mengobati gigitan serangga dan pembengkakan. Khasiat utamanya adalah meningkatkan daya tahan tubuh. Penelitian di Wisconsin University menunjukkan bahwa 8 dari 9 penelitian Echinacea manjur untuk infeksi pernapasan bagian atas dan baik untuk mempercepat penyembuhan. Jika sudah mulai bersin-bersin, kepala berat, dan hidung berlendir, maka cepat konsumsi herba ini. Gejala akan cepat hilang. Echinaca tersedia dalam bentuk kapsul, tincture maupun teh/seduhan.

Black cochos untuk pereda efek menopause. Di era bangsa Indian, herba ini digunakan untuk mengobati sakit di bagian yang berhubungan dengan organ reproduksi kewanitaan. Di zaman sekarang, ilmuwan Jerman membuktikan bahan ini mampu meredakan semburan panas (hotflushes) pada wanta yang mulai menopause. Bagi wanita yang tidak memilih terapi estrogen, herba ini bisa digunakan.

Evening primrose menurunkan kolesterol. Biji bunga evening primrose mengandung asam lemak esensial, terutama gamma linoleic acid. Penelitian yang dilaporkan oleh The review of Natural Products, menunjukkan konsumsi herba ini selama 3 bulan dengan nyata menurunkan, kadar kolesterol. Namun kolesterol tinggi membutuhkan penanganan yang agak rumit, jadi perlu konsultasi pada dokter jika memilih untuk mengkonsumsinya.

Pepermint menenangkan lambung. Pada zaman Romawi, orang mengunyah daun mint setelah pesta untuk menenangkan pencernaan, sehingga ada tradisi after-dinner mint. Minyak peppermint membantu menekan produksi gas dan merangsang pencernaan untuk memproduksi enzim pencernaan. Bisa juga untuk melawan bakteri. Kembung dan mual dapat diatasi dengan daun mint. Bisa dikunyah langsung, disedu sebagai teh ataupun menggunakan teh mint yang sudah banyak dijual.

Ginko biloba melonggarkan pembuluh darah. Inilah pohon herba tertua. Estrak daunnya mampu meningkatkan sirkulasi darah ke otak dan membantu menangkal terbentuknya endapan dalam pembuluh darah, sehingga mampu mengurangi kepikunan, bunyi dengkingm ditelinga, pusing vertigo dan gangguan sakit kepala lainnya. Efek lebih jauh, ginko dimanfaatkan untuk mengatasi gangguan ketajaman mental, gejala Alzheimer (penyakit penuaan), gangguan seks, sampai sakit karena pengaruh ketinggian tempat. Mengingat cara kerjanya yang rumit, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter, mengingat ada keadaan tertentu yang perlu hati-hati untuk mengkonsumsinya.

Bawang putih adalah antibiotik alami. Telah dikenal lama oleh nenek moyang kita sebagai obat. Bawang putih di Barat sering disebut king of the herb. Sejak dulu tahun 1920-an, sebuah perusahaan farmasi di Swis mengisolasi zat aktif bawang putih, aliin, yang menurut penelitian mereka tak akan memberi khasiat obat jika tidak dikunyah. Enzim mengubah aliin menjadi antibiotik kuat aliicin. Kini zaman modern, bawang putih diteliti potensinya untuk menyehatkan jantung sampai kanker.

Selain dikenal sebagai antibiotik, bawang putih juga berkhasiat memompa daya tahan tubuh dan anti infeksi. Bawang putih segar lebih efektif, jadi bawang putih paling baik dikonsumsi dalam keadaan mentah.

Ginseng penambah energi, tonikum. Walau penggunaannya selama ini untuk meningkatkan tenaga/vitalitas tubuh, namun penelitian di University of Milan (Itali) menunjukkan ginseng berkhasiat juga menambah daya tahan tubuh. Ginseng bisa menurunkan gula darah, demikian penelitian yang ditulis Diabetes Care. Dari Yale University diperoleh hasil bahwa ginseng mampu membantu mengatasi problem disfungsi ereksi dan menambah jumlah sperma pada kasus infertilitas pria. Penelitian lebih lanjut menunjukkkan akar ginseng ini digunakan untuk menekan LDL dan meningkatkan HDL. Meski bisa diseduh, tetapi paling efektif diminum dalam bentuk kapsul.

Lavender untuk menenangkan. Bunga lavender merupakan resep kuno untuk menenangkan. Peneliti Inggris di University of Wolverhampton menunjukkan dengan cara mencampurkan minyak esensial Lavender dalam air mandi, mampu mengurangi marah, frustasi,dan pikiran negatif. Meski efeknya ringan tetapi jangan menghirup langsung lavender karena beracun. Jauhkan dari jangkauan anak-anak.

Pegagan (Gotu kola) untuk mengasah daya ingat. Di India dikenal sebagai herba untuk panjang umur. Herbalis meyakini pegagan mampu membantu daya ingat dan kekuatan otak. Pegagan juga peluruh air seni/diuretik. Namun, karena berpotensi racun, maka untuk mengkonsumsinya perlu berkonsultasi lebih dulu kepada ahlinya. (N)

Sumber: Majalah Nirmala